Jakarta – Di tengah perubahan geopolitik global dan kebijakan ekonomi negara-negara besar seperti Amerika Serikat, pelaku Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM) Indonesia menghadapi tantangan baru dalam menembus pasar ekspor. Dalam sesi pelatihan ekspor yang diselenggarakan oleh Rumah Ekspor 37, Ketua Umum Dr. Hendratmoko, M.Si, memberikan pesan kuat agar UMKM terus mengembangkan strategi adaptasi dan inovasi agar tidak tertinggal dalam dinamika ekonomi global.
Menurut Dr. Hendratmoko, pemilik UMKM tidak boleh hanya terpaku pada hambatan seperti sanksi tarif dan regulasi ekspor, melainkan harus menjadikannya sebagai peluang untuk mengakses pasar baru. “Jangan hanya melihat hambatan sebagai batasan, tetapi sebagai peluang untuk mencari pasar baru dan menyesuaikan strategi bisnis,” tegasnya. Ia juga menekankan pentingnya membaca tren dan dinamika perdagangan dunia, serta membangun kemitraan strategis dengan negara-negara yang membuka peluang besar bagi produk-produk Indonesia.
Lebih lanjut, ia menggarisbawahi pentingnya diversifikasi pasar ekspor. “Kita tidak bisa hanya bergantung pada satu negara tujuan. Asia, Timur Tengah, dan Afrika kini menjadi pasar yang lebih terbuka dan siap menerima produk Indonesia. Ini peluang besar,” ujarnya.
Dalam menghadapi hambatan tarif, Dr. Hendratmoko menyarankan agar UMKM mulai mengoptimalkan berbagai trade agreement atau perjanjian dagang yang telah dimiliki Indonesia. Salah satu contohnya adalah CEPA (Comprehensive Economic Partnership Agreement), yang membuka jalur ekspor lebih luas dengan tarif yang kompetitif dan hambatan yang lebih rendah. Selain itu, pelaku UMKM perlu meningkatkan nilai tambah produk melalui inovasi, sertifikasi internasional, dan pemenuhan standar keberlanjutan.
Ia menekankan, “Sekarang adalah era di mana pembeli internasional tidak hanya melihat harga dan kualitas, tapi juga nilai-nilai keberlanjutan, etika produksi, dan jejak karbon. UMKM harus siap menjawab tantangan itu.”
Mengakhiri paparannya, Dr. Hendratmoko memberikan dorongan moral kepada seluruh peserta pelatihan. “Di saat negara lain sedang berhati-hati, justru inilah saat yang tepat bagi UMKM Indonesia untuk bergerak cepat, inovatif, dan mengambil posisi strategis dalam rantai pasok dunia,” katanya.



